Buletin Jumat Edisi 19: Ibadah Kalkulatif
Buletin Jumat Edisi 19 – Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering kali terbiasa mengukur segala sesuatu berdasarkan keuntungan dan hasil yang diperoleh. Tanpa disadari, pola pikir tersebut dapat memengaruhi cara seseorang menjalankan ibadah. Ibadah yang seharusnya menjadi bentuk penghambaan dan kecintaan kepada Allah SWT terkadang dipandang sebagai sarana untuk memperoleh imbalan duniawi. Padahal, hakikat ibadah bukan sekadar tentang apa yang diperoleh, melainkan tentang ketulusan hati dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Melalui Buletin Jumat bertajuk “Ibadah Kalkulatif”, Muhammad Abidin, S.H., C. Med., M.H. mengajak pembaca memahami konsep tijarah lan tabur atau perniagaan yang tidak akan merugi, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an Surah Fatir ayat 29. Pembahasan ini mengangkat makna investasi spiritual melalui amal saleh, membaca Al-Qur'an, salat, dan sedekah, sekaligus menekankan bahwa nilai ibadah tidak seharusnya diukur hanya melalui keuntungan materi, tetapi juga melalui ketenangan jiwa, ampunan, dan rida Allah SWT.
Ibadah yang sejati tumbuh dari rasa syukur, keikhlasan, dan keistiqamahan, bukan semata-mata dari harapan mendapatkan balasan secara instan. Dengan membiasakan amal kebaikan secara konsisten, menjaga kejujuran, serta bersabar dalam setiap proses kehidupan, seorang Muslim dapat membangun hubungan spiritual yang lebih bermakna dengan Allah SWT. Temukan pesan inspiratif dan pembahasan selengkapnya melalui Buletin Jumat AAIBS Sumatera Utara berikut ini.